Skip to main content

Bukan Pengamat Film

Aku tuch suka bener nonton film, tidak ada batasan mengenai film yang harus aku tonton. Film bagiku tidak hanya sebagai sarana hiburan saja, film kadang bisa menjadi sumber inspirasi ku. Ada beberapa film yang aku jadikan sebagai salah satu media edukasi untuk anak-anak ku. Mungkin bagi sebagian orang film hanyalah sebuah hiburan, tapi lihat ternyata dengan film banyak yang bisa aku lakukan. 

Akhir-akhir ini aku sedang senang menonton film berseri mengenai salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah para sahabat rosul sudah sering aku dengar ketika masih duduk di bangku sekolah. Kebetulan aku sekolah di sekolahan swasta dengan kurikulum pendidikan sedikit lebih banyak membahas tentang ajaran islam. Di sini aku tidak akan membahas mengenai ke empat sahabat rosul  (khulafaur rasyidin ) , hanya ingin mengutip sedikit kalimat yang ada di film berseri Umar bin Khatab. Film ini memilki beberapa episode. Biasanya aku tidak begitu tertarik bila menonton film produksi dari timur tengah sana. Tidak sengaja aku menemukannya di antara koleksi-koleksi film kami. Aku juga heran kenapa suamiku menyimpannya, dan ketika aku tanyakan mengenai hal ini ke suamiku, dia menjawab 'bapakkan suka ngikutin tren bu, itu bapak dapat waktu bulan puasa kemaren' . O...hanya mengikuti tren di kantor toh. Sedangkan suamiku sendiri belum pernah mencoba untuk menontonnya. Jadi maksud sebenarnya mungkin hanya untuk memenuhi kapasitas harddisk saja. haha..

Kembali ke film Umar bin Khatab, untuk menontonnya aku sedikit mengalami kesulitan dalam menangkap isi dari pembicaraan tokoh-tokoh yang ada di film. Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab, dan untuk subtitle nya, aku sedikit  memerlukan waktu untuk memahaminya hehe. Selebihnya aku bisa menikmati jalannya film. Pada awal-awal episode ada bagian yang cukup menarik bagiku yaitu ketika Umar bin Khatab belum memeluk agama islam dan beliau mendapati salah seorang temannya ingin melakukan hijrah  batin yang sangat bertolak belakang dengan ajaran leluhur mereka. Umar yang pada saat itu dikenal sebagai seorang yang selalu menjunjung tinggi akan nilai-nilai leluhur mereka memberikan sedikit saran kepada temannya. Begini kira-kira isi dari saran yang disampaikan oleh Umar bin Khatab kepada temannya ' Jika Islam yang anda pikirkan, dan anda mengikuti pikiran anda menyatakan diri (sebagai) seorang muslim dan menahan (atau mau menerima) konsekuensi(nya), anda (akan) melawan saya. Siapa yang menang (secara) terhormat dan (anda berhak menerima) kekaguman (dari) saya. (Tetapi) Jika anda lebih pengecut dan (mencari) keselamatan dari apa yang anda yakini, anda (akan menjadi) sekutu (bagi) saya, tapi saya (akan) melihat anda dengan penghinaan'. Temannya pun tersenyum mendengarnya, begitu juga aku yang menonton filmnya. hehe.

It's awasome. Bagiku apa yang disampaikan Umar bin khatab itu keren banget. Beliau bisa menempati dirinya sebagai seorang kawan dan juga sebagai seorang yang memilki integritas terhadap ajaran leluhurnya. Bagiku itu keren dan tentang hal ini kamu boleh setuju boleh juga tidak, karena masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. 

Hal ini mungkin bisa kamu jadikan sebagai bahan pertimbangan kamu dalam mengatasi sebuah perbedaan tentang apa pun itu tetapi tidak membuat diri kita 'melanggar' apa yang telah kamu yakini benar. Apalagi bila perbedaan itu terjadi dengan seseorang yang sangat kita kenal. Banyak cara, banyak perbedaan. Ini hanya salah satu cara dariku bila kita berada dalam kondisi tidak sejalan dengan seseorang. Masih banyak cara lain, cari dan temukan apakah cara itu yang sesuai dengan diri kamu. 

Masih belajar menulis, mencoba menyampaikan sesuatu ke dalam tulisan ternyata tidak semudah yang aku pikirkan. Susunan kata yang masih melompat-lompat kadang mengaburkan apa yang dimaksud dari penulis. Selalu ada proses untuk menjadi apa pun yang kita inginkan. Dan tulisan ini salah satu proses aku untuk menuju ke salah satu tujuan ku. Setidaknya ada sedikit usaha untuk sedikit perubahan demi perubahan besar di depan sana.  Yup. nikmatin aja proses ini. Bila nantinya aku menemukan kesulitan, tentu ada banyak cara untuk mengatasinya. Pokoknya mah just action pren ^_^

Comments

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...