Skip to main content

Belajar Menulis Dengan Mengikuti Lomba ^_^

Memutuskan untuk terjun di bisnis jaringan memaksa saya untuk berkenalan dan belajar tentang hal-hal baru. Salah satunya tentang menulis, karena ini erat kaitannya dengan branding-branding bisnis yang harus saya buat tiap hari. Dengan banyak membaca akan memudahkan kita dalam menulis, sayangnya saya juga tidak suka membaca,haha,kacau. Setelah menulis lalu merambah ke dunia baca, haruskah saya balik ke bangku sekolah dasar lalu ke pantai?? ah, yang benar saja . :) 

Belajar tidak pandang usia, ketika diberi kesempatan maka manfaatkanlah. Ternyata kesempatan itu menyapa saya melalui seorang kawan facebook, usianya empat tahun lebih muda dari saya. Awalnya hanya karena ingin merespon ajakan si doi. Mungkin lebih tepatnya dengan mengikuti lomba ini, akan memberi sedikit tantangan ke diri sendiri dalam menuangkan ide ke bentuk tulisan. Saya pun mengikuti lomba yang ditawarkan. Lomba itu diselenggarakan oleh penerbit Rasibook. Melihat para peserta lomba membuat nyali saya menciut. Pesertanya banyak yang lebih muda dari saya, dan memiliki talenta menulis yang cukup baik. Tapi tidak salahnya bila saya ambil kesempatan ini. Menang bukanlah tujuan utama, dan kenyataannya saya tidak menang. haha.. Hanya sebagai salah satu kontributor dari buku yang akan diterbitkan oleh Rasibook. Buku "Menulis tentang Menulis". Kebetulan penulis amatir ini terpilih karena berdasarkan nomor urut. hehe, 

Berikut naskah yang saya ikut sertakan dalam lomba "Menulis Tentang Menulis"

Judul : Menulis adalah segalanya

Menulis adalah keberanian, berani untuk memulai, berani untuk malu, berani untuk dikritik, berani untuk dipuji, berani untuk disepelekan dan berani untuk bertanggung jawab. Bila seorang prajurit harus berani menghunuskan pedangnya, maka seorang penulis harus berani menggoreskan penanya. Keberanian ini pulalah yang membimbing aku  menulusuri jalannya pikiran yang tak berujung. Mencoba mengekspresikannya melalui kata-kata yang berbalut kesederhanaan.

Menulis adalah pengetahuan, tulisan akan tampak lebih berbobot bila didukung dengan pengetahuan yang cukup mengenai topik yang diangkat. Keberanian tanpa pengetahuan akan sia-sia. Bagaikan kapten dan kapalnya, sayangnya sang kapten tidak dibekali pengetahuan tentang navigasi. Sehingga kapal itu berlayar tanpa arah, padahal ada rasi bintang yang bisa dijadikan sebagai petunjuk, atau bisa juga bertanya kepada mata angin yang datang dari berbagai penjuru. Tapi apa mau dikata, sang kapten tidak mengenal akan bintang dan mata angin. Berlayar bermodalkan keberanian tanpa dibekali pengetahuan mengakibatkan kapal  terombang ambing di lautan, kemudian tersesat lalu terdampar atau justru tenggelam di lautan. Tragis.

Menulis adalah kesabaran, tulisan akan tampak semakin apik bila disertai kesabaran. Susunan kata yang tertata dengan rapi, memberi kenyamanan dan kemudahan bagi pembaca untuk memahami isi dari tulisan.  Akan berbeda bila penulis tidak memilki kesabaran, tidak jarang susunan kata akan melompat-lompat, mengaburkan maksud dari tujuan si penulis. Begitu pula dalam mengelola emosi, emosi yang meletup-letup akan  tergambar dengan baik dan sempurna bila ada kesabaran di dalamnya, sehingga pembaca ikut merasakan energy sang penulis.

Menulis adalah keinginan, keinginan inilah yang dapat mengubah hitam menjadi putih, mengubah tiada menjadi ada, mengubah tidak paham menjadi paham. Bila menulis hanya sebagai suatu keharusan, maka jangan heran bila tulisan akan tampak seperti sebuah beban. Beban akan terasa semakin berat bila kamu terpaksa untuk melakukannya. Beban akan terasa ringan bila itu hadir atas keinginanmu. Berangkat dari keinginan inilah aku menyelam lebih dalam, mengenal lebih dekat, menjadikan keinginan untuk menulis semakin kuat. Awalnya aku hanya ingin bermain-main saja dipermukaaannya, setelah menyelam lebih dalam ternyata aku menemukan ruang baru untuk berekspresi. Ruang tanpa dinding penyekat, memberi aku keleluasaan dalam bergerak. Menulis memberikan kesan tersendiri bagiku. Menghadirkan suasana yang berbeda di kala emosi sedang menguasai diri.

Ketika keinginan menulis sudah ada maka lakukanlah, jangan sampai dia (baca : keinginan) pergi lalu menghilang dan enggan untuk kembali. Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang baru. Ekspresikanlah sesuai gaya mu, ciptakanlah warnamu. Dunia ini masih memerlukan banyak warna untuk membuatnya semakin indah. 

Comments

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...