Skip to main content

Princess Roufa bilingual


       gb. dari www.yes24.co.id

Princess Roufa ( versi B.Indonesia )
oleh : Nevania Tsaabita Putri

Kalau aku sudah besar.
aku nanti pengen jadi Princess Roufa.
Pricess Roufa yang baik hatinya.
Aku juga ingin punya istana yang besar.
Istananya warna pink, putih, dan merah.
Tamannya berisi bunga matahari, bunga aster, dan bunga gladiol.
Ia menjaga kebersihan dan juga menjaga lingkungan.
Dia orang yang sangat cantik sekali.
Pricess Roufa memiliki hewan kucing.
Kucingnya banyak sekali.
Ada kucing lelaki ada juga kucing perempuan.
Dia punya kuda juga.
Kudanya warna coklat dan putih.
Kudanya perempuan.
Rambutnya warna coklat dan putih.
Nama kudanya White Salju.
Ia juga orang islam yang soleha.
Kalau pergi ia selalu memakai kerudung.
Aku ingin seperti Pricess Roufa.

Princess Roufa ( versi B.Inggris )
by : Nevania Tsaabita Putri

When i grow up.
I want to be like Princess Roufa.
Princess Roufa is a good girl.
She is lived in beautiful castle.
The castle were painted with pink, white and red colour.
Her garden filled with sun flower, esther, and gladiol.
She take a good care it clean and neat.
She also beautiful girl.
Princess Roufa have a lot of cats.
The cat is very varied, there are a white and an orange one.
Princess Roufa also have brown and white horses.
Her horse is name White Snow.
She also a good moslem.
Every time she go out, she always wear jilbab.
I want to grow up like Princess Roufa.


Comments

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...