Skip to main content

Kota Yang Tak Lagi Muda


Apa kabarmu Batavia Lama? Lihatlah dirimu kini, wujudmu menjelma menjadi situs warisan. Dibanyak sudut kau makin tampak rapuh. Hanya berupa bangunan-bangunan lama yang kurang terawat. Kebetulan beberapa tempo yang lalu aku berkesempatan menjejakkan kaki di komplek tuamu itu. Membawa serta kedua putriku untuk turut menyaksikan sisa-sisa pesonamu. Konon keanggunan kotamu mampu menghipnotis para pelayar Eropa, terkesima akan keindahanmu, hingga mereka pun menjuluki dirimu sebagai "Ratu dari timur". Dan hal itulah yang ingin aku tunjukkan kepada kedua putriku. 

Dari sekian banyak gedung yang tersisa, stadhuis masih menjadi sorotan para pengunjung. Arsitektur bangunannya bergaya abad ke 17, menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak mata yang menatapnya takjub. Menilik rupanya untuk dijadikan latar dari sebuah dokumentasi bergambar menjadi pilihan banyak orang. Sayang museum Fatahillah sedang dalam perbaikan. Jadilah pilihan kami jatuh kepada museum Seni Rupa dan Keramik. Kebetulan saat itu sedang diadakan pameran Karikatur Politikus. Temanya sedikit berat untuk anak-anak seusia kedua buah hatiku. Tapi tidak ada salahnya mencoba mengenalkan kepada mereka bentuk lain dari seni dan hiburan yang bagi sebagian orang dijadikan sebagai sarana kritik sosial dan politis untuk para pejabat negeri. 

Bersama salah satu badut favorit si kecil, tampak latar adalah Museum Fatahillah yang tertutup layar bergambar sama dengan gedung yang berada di belakangnya. 

Melucu sekali lalu mengkritiki, inilah yang aku suka dari karikatur meskipun terkadang aku pun tidak terlalu paham apa yang dimaksud dari karikaturis.  Ada 12 karikaturis dan puluhan karya yang ikut meramaikan pameran, mereka tergabung dalam Pakarti (Persatuan Kartunis Indonesia). Politikus kita dalam karikatur, sebagian besar menggambarkan perpolitikan Indonesia masa kini serta mengkritisi pemerintahan Jokowi beserta Kabinet Kerjanya. 

Politikus kita dalam karikatur

halaman depan museum Seni Rupa dan Keramik
foto sengaja dibuat hitam putih agar terkesan tempo doeloe, karpet merah yang terbentang jadi tidak begitu tampak tapi kehadirannya membuat gedung lama sedikit berubah menjadi eksklusif .

Beberapa karya sempat kuabadikan ke dalam kamera digitalku. Itupun terburu-buru karena kedua putri manisku sudah tidak sabar ingin segera keluar dari ruang pameran. Alhasil hanya sedikit karya yang bisa kunikmati dan kucoba untuk memahami. Semoga dari sedikit ini bisa memberi sedikit inspirasi dan hiburan yang menyenangkan bagi kamu yang kesasar di blog ini. Semoga :)

Berikut beberapa karikatur yang tertangkap oleh mata kameraku. 



judul : Prabowo
karya : Djoko Susilo
judul : Susi Pudjiastuti
karya : Sabariman Rubianto
judul : koki rakyat ( jokowi )
karya : Sabariman Rubianto

judul : kerja saya teriak-teriak
karya : Djoko Susilo
Sebenarnya animo masyarakat terhadap karikatur cukup baik. Ini terlihat dari beragamnya usia pengunjung yang memadati ruang pameran. Beda usia, beda cara pandang dalam melihat isu yang diangkat oleh seorang karikaturis. Responnya pun beragam, ada yang tersenyum sinis, tersenyum geli atau tersenyum bingung alias tidak menangkap maksud dari karikatur. Bahkan ada juga yang ingin segera keluar sebelum masuk. Nah loh ?? Yang seperti ini karena mereka salah masuk gedung tentunya. hehe..

Pameran karikatur bisalah dijadikan sebagai penawar rasa kecewa karena museum Fatahillah dalam perbaikan. Bila pun belum memuaskan, taman Fatahillah bisa dijadikan pilihan berikutnya. Bersepeda ontel lengkap dengan topi bundarnya, atau untuk anak-anak bisa berfoto ria dengan badut-badut lucu biasanya akan menyenangnkan hati mereka. Atau kamu bisa mengabdikan mereka yang sedang menikmati waktu di kota tua, jadi tukang foto keliling misalnya. hehe. #becanda

Banyak hal yang bisa kita lihat di kota tua ini. Di sinilah cikal bakal kota Jakarta. Bila kamu haus akan sejarah, silakan mampir di tempat wisata satu ini. Dan lepaskanlah dahagamu kawan. :)

Comments

  1. Mengunjungi kota tua rasanya gak cukup sekali. Saya masih pengen berkunjung kesini lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak Myra, saya pun seperti itu :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...