Skip to main content

Ayo Menabung

Memiliki pendapatan yang pas-pasan tentu akan menjadi bumerang yang mematikan bila tidak pandai mengatur keuangan. Masa depan tergadaikan dengan utang yang terus menerus menumpuk. Mimpi-mimpi terlupakan karena disibukkan oleh kegiatan gali lubang tutup lubang. Bila kondisi morat-marit ini terus berlanjut, maka jangan heran suatu saat nanti akan dihadapkan pada era kegelapan yang kelam dan suram.

Sisi kelam keuangan ini begitu mudah dijumpai dibanyak sisi kehidupan. Lihat saja ibu-ibu rumah tangga yang selalu menjerit ketika uang saku mereka terjepit oleh banyak kepentingan hidup. Bayar uang sekolah anak, bayar air, bayar listrik, bayar tukang sampah, bayar keamanan, bayar ojek langganan, bayar cicilan, bayar kartu kredit, dan sebagainya. 

Urusan uang yang bertampang suram ini pun kerap menghampiri buruh-buruh pabrik yang selalu meringis tiap kali bahan bakar minyak mengalami perubahan nilai beli yang melejit. Tak jarang petugas keamanan yang bertampang lembut pun berubah beringas manakala gaji mereka nyaris tak sampai ke garis finis. Memang persoalan fulus ini sering kali mengubah seseorang menjadi pribadi yang lain dari biasanya. 

Lalu pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah kondisi keuangan masyarakat menengah ke bawah sajakah yang selalu tampak mengkhawatirkan seperti uraian di atas? Atau keamburadulan finansial ini juga terjadi pada kaum jetset?

Persoalan finansial ini menjadi pelik jika dan hanya jika orang yang terkait kurang cakap dalam mengatur keuangan. Tingkat kemampanan tidak menjamin seseorang bebas dari finansial bila tidak didukung oleh manajemen keuangan yang baik dan cermat. Gaya hidup yang tidak disesuaikan dengan kemampuan pun kerap menjebak kita ke dalam kondisi finansial yang buruk.

Dengan menyisihkan sebagian pendapatan diharapkan mampu mengurangi resiko keterpurukan finansial. Yang perlu diperhatikan di sini adalah apakah pengambilan keputusan terhadap pengaturan aliran-aliran fulus ke kantong-kantong penyimpanan tertentu telah berdaya guna. Atau itu hanya sebuah keputusan yang sia-sia. Berikut tips-tips dari saya yang bisa kamu gunakan sebagai bahan pertimbangan jika kamu ingin menyisihkan rupiah ke dalam bentuk simpanan di lembaga-lembaga keuangan yang telah ada :

1. Tentukan tujuan dari penyimpanan alat pembayaran (uang) ini.
Setiap keputusan finansial harus memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa produk perbankan yang dapat digunakan untuk mengalokasikan lembaran-lembaran rupiah ini. Satu yang populer adalah tabungan. Tabungan ini pun beragam jenisnya. Diantaranya tabungan bisnis, tabungan anak, tabungan pensiun, tabungan pegawai dan tabungan haji. Sesuaikan pilihanmu dengan kebutuhan yang ada.

2. Pastikan bahwa lembaga keuangan yang kamu tunjuk memiliki kinerja yang baik.

3. Perhatikan apakah produk perbankan yang digunakan telah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan.

4. Cermati syarat dan ketentuan yang berlaku yang terdapat pada produk perbankan yang diinginkan.

5. Disipilin.

Banyak sudah artikel-artikel yang membahas tentang pengelolaan keuangan. Ribuan situs web menawarkan kiat-kiat menarik dalam menghadapi berbagai macam masalah yang berhubungan dengan uang. Satu dari ribuan situs tersebut bisa kita jumpai di website milik perusahaan start-up yang bergerak dibidang teknologi finansial yang diberi label cermati.com. 

Cermati.com adalah website yang didirikan oleh para pakar teknologi dari Silicon Valley. Website ini concern dalam urusan atur mengatur fulus. Cermati.com menjadikan informasi finansial semakin mudah diakses. Informasi-informasi yang disajikan pun dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengambil setiap keputusan finansial. Cermati.com memberikan solusi terhadap kondisi keuangan yang tengah kita hadapi melalui produk-produk yang ditawarkannya.

Artikel-artikel yang disajikan cermati.com pun sangat menarik dan memperluas wawasan dalam mengatur kondisi keuangan dengan tepat. Keputusan finansial yang gegabah cenderung menghasilkan urusan keuangan semakin rumit. Sangat disarankan tiap kali mengambil langkah-langkah perbankan maka lakukanlah dengan cermat. 

Menabung pun bisa dijadikan sebuah solusi disaat murungnya kehidupan harus diperparah dengan biaya pendidikan yang terus melonjak naik. Bagaimana perubahan akan tampak bila bangku sekolah menjadi barang mewah. Karena konon melalui pendidikanlah cara ampuh memutus rantai kemiskinan. Dipercaya pendidikan mampu mengubah dunia kegelapan menjadi penuh cahaya, mengubah ketidaktahuan menjadi kecakapan, serta mengubah cara pandang seseorang menjadi jauh lebih matang.

Menabung tidak hanya menabung. Menabung adalah salah satu cara dalam mengendalikan situasi finansial agar tetap kondusif. Dan ketika kendali sudah berada dalam genggaman maka urusan keuangan ini akan berakhir dengan sebuah kesuksesan. Maka ayo menabung!!




diolah dari beberapa sumber :
1. https://www.cermati.com/
2. http://joylivingpermatabank.com/joyliving/treasure/read/58




Comments

  1. bung ayo kita menabuuung

    ReplyDelete
    Replies
    1. bang bing bung yok kita nabung , bang bing bung yok jgn dihitung, tau2 kita nanti dpt untung. Ayo nabung bun :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...