Skip to main content

Perkembangan Teknologi dan Anak

sumber gb. http://ayysa.com/

Permainan masa kecil tempo dulu jauh berbeda dengan anak-anak masa kini. Dulu, tanah kosong begitu mudah dijumpai. Terlebih bila tinggalnya di kampung seperti saya. Sungainya masih jernih. Pohon-pohonnya rimbun. Udaranya nan segar minim polusi. Menciptakan lingkungan bermain yang sangat kondunsif untuk anak.

Lalu ketika saya beranjak dewasa kemudian menikah dan memiliki momongan. Keceriaan bermain tak lagi terlihat sama. Kini kondisi yang dihadapi telah jauh berubah. Apalagi setelah keluarga kami memutuskan untuk tinggal di ibu kota. Betapa sulitnya menemukan tanah-tanah lapang di lingkungan tempat kami tinggal.

Tepian kota saja sudah tak ramah terhadap perkembangan anak. Bagaimana bila tinggal di pusat kota. Beruntung bila perumahan mewah yang menjadi hunian, atau apartemen dengan segala fasilitas pendukungnya. Lah bila tinggalnya di gang sempit, di apit gedung-gedung pencakar langit, dibumbui dengan kadar polutan yang kian melejit lalu diakhiri dengan sembelit. Lho???

Hidup sudah sulit. Kenapa saya harus berpikir rumit. Sudahlah jangan berbelit-belit tanpa menghasilkan solusi yang baik. Mari lanjutkan menulis bagai penulis yang kritis :))

Kisah-kisah klasik ini pun berlanjut. Gundah kembali hadir melihat perkembangan teknologi canggih yang kerap membayangi kehidupan manusia. Tak tua tak muda, tak kaya tak miskin, tak besar tak kecil begitu terbuai dengan kemunculan gadget-gadget canggih ini. 

Dampaknya adalah pengalihan minat bermain anak-anak Indonesia. Kerap digempur oleh gadget-gadget canggih menjadikan mereka cakap mengoperasikannya bak seorang ahli. Jangan pula heran bila mereka lebih jago memainkan gawai-gawai cerdas ini tinimbang ibu-ibu yang melahirkan mereka. Lupakan perihal permainan yang melatih ketangkasan fisik. Lompat karet, gobak sodor, petak umpet tampaknya memang telah menghilang dari peredaran. 

Olah pikir lebih diutamakan saat ini. Fantasi lebih di kedepankan. Bermain beragam game pun dianggap solusi terkini. Dan itu pun harus diperparah dengan anggapan tidak trendi bila diri tak mengikuti perkembangan gadget-gadget canggih tersebut. Momok dari semua itu adalah ketika pada akhirnya terbentuklah generasi-generasi individualistis. Golongan manusia yang tak peka terhadap lingkungan. Inilah yang paling saya takutkan.

Namun melarang buah hati mengenal perkembangan teknologi di tengah sulitnya mencari tanah lapang untuk mereka bermain pun bukanlah jawaban yang tepat. Memilih dan memilah dalam penggunaannya bisa menjadi kontrol bagi si buah hati. Jadi biarkan buah hati mengikuti terndi. 

Berkaca pada pengalaman pribadi kehadiran teknologi akan terasa menganggu bila tak pandai-pandai mengatur waktu. Apalagi bila difasilitasi akses internet tanpa batas. Maka harus ada kesepakatan yang jelas antara orang tua dan sang buah hati. Selanjutnya konsistenlah terhadap hal-hal yang telah disetujui bersama. Karena bila tidak ada keselarasan, hal-hal yang ditakutkan bisa saja terjadi. Dan bagi saya itu lebih mengerikan bila dibandingkan dengan anggapan tidak trendi. [*]









Comments

  1. Tetap harus ada kontrol yang baik untuk perkembangan anak. Apalagi jaman sekarang semuanya sudah serba mengandalkan teknologi, hingga anak-anak jadi malas untuk beraktivitas secara fisik.

    ReplyDelete
  2. ngeri kalo liat perkembangan anak yang sudah gadget freak. semakin tidak peduli dengan lingkungan sekitar, mungkin sebagai orang tua harus ad akontrol tegas penggunaan gadget

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener itu.. kontrol tegas yang diperlukan..

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...