Skip to main content

Salah Perhitungan Kami pun Kehausan

gb koleksi pribadi
"Bu, air minum habis tuch."
"Hm, iya."

Peringatan dini yang diutarakan oleh si kecil mengenai persediaan air tidak aku respon dengan baik. Kenapa? Karena aku rasa persediaan air cukup untuk beberapa hari ke depan. Tapi aku salah. Di awal hari kemarin ketika si kecil hendak melepaskan dahaganya.

"Ibu, airnya habis. Adek haus."
"Ok." jawabku tak menaruh sedikitpun rasa curiga. Persediaan air masih ada ini, pikirku yakin.

Penuh percaya diri aku pun pergi ke dapur untuk mengganti galon kosong yang ada di dispenser dengan galon yang masih terisi penuh. Kakiku melangkah pasti, mataku tak ragu akan menangkap deretan galon-galon yang berisi air di salah satu pojok dapur mini kami. Namun sungguh sayang aku tidak mendapati apa yang aku cari. Tidak ada satu pun galon-galon itu terisi. Semua kosong.

Persediaan air minum yang tak ada ditambah pula dengan gerah yang melanda. Hari kian terasa kering. Garangnya raja siang menerobos hingga ke dalam rumah. Panas. Ah, lebaran kali ini aku salah perhitungan. Biasanya aku selalu menyediakan kebutuhan-kebutuhan pokok kami. Mungkin karena terlampau sibuk dengan keriuhan anak-anak menyambut Idul Fitri kali ini sehingga membuatku lalai dengan persediaan barang yang harusnya selalu ada.

Suami dalam kondisi kurang baik. Galon tidak ada yang terisi. Sekedar seteguk dua teguk bisalah toko samping rumah menjadi tempat kami meredam rasa haus. Tapi pasti pengeluaran tidak seimbang bila dibandingan satu saja galon itu terisi. Salah perhitungan kedua, pengeluaran tanpa diduga dihari yang sama. Ya, ketika satu perhitungan meleset dampaknya memang kerap merembet. Begitu pun dengan kondisi krusial seperti kemarin ketika air untuk diminum tak ada justru dahaga kian terasa. Ya sudahlah, meski tak yakin toko-toko telah buka, toh saya tetap harus keluar rumah mencari segalon air di mana saja asal AQUA. 

Tanpa perlu membawa serta kedua buah hati kubuka pintu depan rumah kami. Cahaya pun segera menerjang. Panas menyeruak. Setan saja mungkin enggan keluar di bawah teriknya mentari. Bisa jadi mereka akan terbakar oleh sang raja siang. Atau justru mereka senang karena api dan panas tidak jauh berbeda bukan? Entahlah.

Air sudah lama tak turun dari cakrawala. Kukira di hari raya Tuhan akan menurunkan sedikit hujan. Yang sudah-sudah kerap seperti itu. Tapi 17 juli lalu langit tidak tampak akan menumpahkan titik-titik airnya ke bumi. Haus ini kian menyiksa. Teriakan si kecil dari dalam rumah membuatku tersadar untuk segera memacu roda duaku menembus terik yang menyengat.

Panas panas panas. 
Panas badan ini
Pusing pusing pusing
Pusing kepala ini #gigi #nakal
Ah kenapa juga lirik-lirik nakal itu yang terlintas. Sebait lagu dari band kawakan asal kota kembang mengintrepetasikan cuaca yang kurasa saat itu. Benakku setuju akan hali itu. Tapi memang di luar ini sungguh panas sangat terasa. Panas. Panas. Dan panas. Kondisi ini diperburuk dengan rasa tak yakinku bila toko-toko di sekitar komplek telah buka. Atau jika pun buka ketersediaan produk yang kucari belum tentu ada. Tapi lupakan saja pikiran-pikiran itu. Karena toko langgananku telah terlihat dari kejauhan.

"Aqua galonnya ada?" tak perlu berbasi-basi. Segera kuutarakan apa hajatku.
"Tidak ada bu. Kosong."
Sudah kuduga.

Ah, harus ke mana kucari air dalam galon. Sementara pikiranku disibukkan oleh kemungkinan-kemungkinan yang akan kulakukan nanti. Kedua bola mataku  justru menangkap mini truk pengangkut aqua galon melintas cantik. Tak perlu menunggu lama segera kuputar arah kemudi motorku lalu mengikut truk tersebut dari belakang. Tak lama truk pun berhenti dan lekas-lekas kuhampiri.

"Bang, aqua galonnya ada?"
"Ada bu."
"Bisa diantar gak?"
"Bisa bu, aku minta no hp ibu aja. Nanti kuhubungi lagi."
"Ok sip. Makasih ya bang."

Setelah memberi alamat dan nomor teleponku, aku pun segera pulang. Kupacu motorku secara brutal. Aku ingin segera sampai di rumah mungil kami agar terbebas dari panas yang terus membayangi laju roda duaku. Akhirnya selesai juga urusan pergalonan kali ini. Dan aku pun sedikit terbebas dari teriknya mentari. [*]

Comments

  1. jangan sampai kehabisan mak :)...air putih memang paling melegakan :)

    ReplyDelete
  2. Air memang selalu menjadi bagian yang tak boleh di anggap sepele ya Mbak, telat sedikit saja bisa ribet jadinya.

    ReplyDelete
  3. Biasanya di mini market kaya alpa indomrt Ada stock mak.
    Tapi emang keabisan air itu beneran kaya di turun.
    Salam kenal mak.

    Akuratu.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang ada, tapi saya pernah coba mesen 4 galon dan minta langsung dihantar ke rumah gak bisa. entahlah, mungkin hari itu saya dapat pelayanan yang tidak biasanya.

      Delete
  4. jangan sampai kehabisan stock lagi ya mba biar engga kehausan lagi hehehe yuuk segera beli air nya ...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...