Skip to main content

Belajar Bertoleransi dari Sebuah Lomba

Bersujud kepada Allah
Bersukur sepanjang waktu
Setiap nafasmu, seluruh hidupmu
Semoga diberkahi Allah
Semoga dirimu semoga langkahmu 
Diiringi oleh rahmatNya

Alhamdulillah wa syukurillah
Bersukur padamu ya Allah
Kau jadikan kami saudara
Indah dalam kebersamaan

"Ayo siapa yang tau judul lagu tersebut?" seru Venus kepada anak-anak dengan usia yang cukup beragam. Mulai dari usia balita hingga remaja berlomba-lomba memeriahkan Eid Mubarak. Lomba yang khusus diperuntukkan kepada pengunjung hotel lawas yang bertempat di tepian Pantai Indah Ancol.

Mulanya aku dan anak-anak tengah menikmati fasilitas yang disediakan oleh Mercure Hotel. Yaitu sebuah ruang bermain yang dibalut apik dengan sebutan cantik MiMo Kid's Mercure Hotel. Di situ anak-anak bisa bermain mandi bola, bermain boneka beserta rumah mininya, atau ananda bisa berpura-pura menjadi seorang juru masak handal. Beberapa play station pun turut meramaikan. Atau pilihan bisa dialihkan dengan mewarnai gambar yang telah disediakan. Tidak perlu membawa pensil warna karena alat mewarnai pun bisa kita pinjam melalui petugas yang tengah berjaga.

Dua malam berada di Mercure Hotel terasa tak cukup bila mengikuti keinginan kedua buah hati. Suasana libur hari raya membuat hotel dipadati oleh pengunjung dari berbagai daerah. Ancol dan Dufan dipastikan penuh sesak. Bukan pilihan yang tepat jika mengajak anak-anak berdesakan dengan keramaian. Hantaman gelombang panas sang raja siang pun patut diperhitungkan. Untungnya ketika keadaan tidak memihak kami, petugas yang menjaga MiMo kid's memberiku kabar yang mengembirakan. Menurut petugas tersebut pada siang hari akan ada perlombaan yang ditujukan untuk para bocah. Ya, ini diluar perkiraan kami. Tidak, kami tidak berpikir libur lebaran kali ini akan diisi dengan mengikuti lomba. Tidak, kami ke hotel bukan karena ingin mengikuti lomba. Lomba adalah bonus dihari libur. Hanya buat happy-happy dan aku pikir ini bisa dijadikan media untuk menguji rasa percaya diri pada anak. Menang atau kalah tak jadi masalah. Karena dari situlah cara ampuh mendidik anak menjadi sportif. 

Lomba akan diselenggarakan selama lima hari dimulai pada hari pertama lebaran. Lomba pertama adalah menghias beduk. Menurut info yang kuterima lomba akan dimulai pada pukul sepuluh tetapi kedua buah hatiku telah siap jauh sebelum waktu yang telah ditentukan. Sembari menanti waktu tiba mereka menyibukkan diri dengan mewarnai, atau sesekali bermain mandi bola. Sementara aku duduk seraya memperhatikan keduanya.
kami sudah siap menghias bedug
Hingga pukul sepuluh tidak ada tanda-tanda lomba akan dimulai. Si sulung sudah mulai resah. Si bungsu seperti biasa selalu sibuk dengan aktivitas motoriknya. Matahari di luar sana kian meninggi. Beberapa rencana dirasa gagal sempurna. Si kakak semakin gundah lalu memaksa agar kami segera angkat kaki dan menjalankan rencana yang telah diatur sedemikian rupa.  Hingga muncullah seorang ibu mengabari kami bila lomba sudah akan dimulai di ruang sebelah. Ternyata kami berada di ruangan yang salah. Kami pun segera bergegas ke ruang yang ditunjuk. 

Di ruang yang tidak terlampau luas itu ada beberapa meja yang telah disediakan. Ada sebuah panggung mini, ada sepasang remaja, remaja pria tampaknya yang akan memainkan keyboard yamaha yang ada di depannya, remaja wanita sepertinya yang akan bernyanyi, ada pula orang tua yang mendampingi anak-anak mereka, dan masih banyak lagi. 

Mereka yang ada disibuki oleh lomba yang tak lama lagi akan dimulai, aku seperti biasa sibuk memikirkan artikel yang akan kutulis di blog sederhanaku ini. Sedikit aksi kulancarkan ke mami-mami yang tampak berwara-wiri. Setelah sedikit percakapan, aku jadi tahu bahwa ternyata dua remaja yang ada di atas panggung adalah kakak beradik. Dan mami yang aku ajak bicara tadi adalah ibu mereka. Mereka adalah rekan bisnis dari Mercure Hotel. Untuk mendukung bisnis mereka, sebuah website pun dihadirkan sebagai ajang promosi usaha. Bila kamu tertarik, kamu bisa juga mengintipnya di http://www.doravenus.com.
hadiah yang diterima
Meski tema lomba berkaitan dengan hari raya Idul Fitri tetapi para peserta yang datang berasal dari latar agama yang berbeda-beda. Dan kedua kakak beradik di atas panggung itu pun memiliki keyakinan yang tidak sama dengan kami. Meski begitu lagu-lagu islami dapat dilantunkan dengan baik oleh Venus. Menurut si mami dikeluarga mereka pun ada yang berkeyakinan sama denganku. Tapi ada atau tidak bagiku itu tidak masalah. Karena kami di sini sebagai tamu hotel yang tengah mencari hiburan. Dan dengan adanya lomba liburan menjadi semakin menarik.

Lomba ini bisalah dikatakan sebagai salah satu bentuk apresiasi dari Mercure Hotel dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Mungkin tampaknya lucu bila Idul Fitri yang diangkat sebagai tema dari lomba namun yang tampak dihadapan adalah penyelenggara dan peserta justru lebih banyak dari umat yang tidak merayakan Idul Fitri. Perlombaan yang sejatinya ditujukan sebagai media mengasah rasa percaya diri. Ternyata memiliki makna lain. Yaitu sebagai bentuk pembelajaran dari sebuah toleransi. 

Di sini perbedaan memang tampak begitu kental. Salah satu yang sangat mencolok adalah ketika tubuh kami tertutup rapat, bikini-bikini lucu dan seksi justru terpampang tepat di depan mata. Ya, mereka memang turis dengan budaya yang jauuuhhh berbeda. Maka jangan tanyakan siapa yang salah pada kasus ini. Karena untuk yang satu ini tampaknya kami memang salah memilih tempat dalam merayakan Eid Mubarak tahun ini. [*]



Comments

  1. Ya setidaknya bisa nambah kenalan dan pengalaman baru buat anak2 ya mbak... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iy nambah kenalan, nambah keberanian dan nambah rasa percaya diri .. makasih udah mampir :))

      Delete
  2. semangat mbaknya

    salam kenall,.
    sutoro.web.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal mas.. tapi lain kali jangan menuliskan url di kolom komentar ya.. akan saya sediakan laman khusus utk yang ingin menitip url...

      Delete
  3. Bayangkan acaranya lucu juga ya Mak :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...