Skip to main content

Antara Tanah Kusir dan Kalibata

Permulaan hari yang menyengat. Akhir pekan yang selalu riuh oleh mereka yang haus akan hiburan. Mol-mol menjamur menjadi jawaban bagi sebagian dan menjadi bencana bagi yang lain. Akhir pekan bukan mol-mol yang menguras isi kantong itu yang kami datangi. Tapi dua tempat yang akan membawa benak kita untuk berpikir sejenak akan kehidupan lain yang sangat jauh berbeda. Dunia yang tak mengenal adanya gadget yang super mahal dan super canggih, dunia gelap tanpa adanya penerang dari lampu-lampu kristal dengan harga yang selangit, dunia bisu tanpa perlu mendengar sumpah serapah yang kerap kita jumpai. Dunia baru yang sangat jauh berbeda dari saat ini. Dunia lain yang dipenuhi oleh keheningan. Konon hanya amalan yang mampu menemani. Tapi jika amalan pun tak punya, lantas apa yang akan menemani?

Adalah sebuah kebiasaan ketika mendekati bulan suci ramadhan komplek-komplek pemakaman akan dipadati oleh manusia yang berbondong-bondong mendatangi tempat peristirahatan terakhir sanak kerabat mereka. Berbagai macam alasan yang mendasarinya. Dari hal yang bisa diterima oleh akal hingga tidak terjangkau oleh nalar sekali pun. Begitu pun dengan yang kami lakukan pada sabtu yang lalu. Bulan penuh rahmat memang masih jauh, tapi aroma kesuciannya sudah mulai tercium. Itu tandanya bagi kami untuk melakukan ritual menjelang datangnya bulan penuh kemuliaan bagi umat muslim ini, yaitu ziarah kubur. Dan begitulah, akhir pekan pun kami isi dengan mengunjungi TPU Tanah Kusir dan Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir yang pertama kali kami kunjungi. Di pintu masuk TPU Tanah Kusir ini terdapat deretan kios yang menjual berbagai macam kembang seperti melati, mawar atau jenis lainnya. Melati, bunga yang kami pilih. Sekantong melati dihargai Rp 15.000,-. Empat bungkus kembang melati pun pindah ke tangan-tangan mungil yang berkicau tanpa lelah. Mengajak ikut serta anak-anak menjadikan kunjungan ke makam bak perjalanan wisata di dalam kota. Antusias mereka yang membuatku merasa seperti itu. Beragam kembang yang ditawarkan semakin membuat suasana menjadi gaduh. Garangnya raja siang pun tak mampu mengurangi semangat kedua bocah. 

Melati sudah di tangan. Roda empat kembali menyusuri jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu buah mobil. Untung kami datang jauh sebelum ramadhan tiba. Sehingga kami tidak perlu kebingungan mencari tempat parkir di antara hamparan gundukan tanah yang dibalut hijaunya rerumputan. 

Setibanya di makam yang kami tuju, kami segera membersihkan rumput-rumput liar yang tumbuh di antara rumput jepang yang membungkus tanah merah. Setelah itu doa-doa lirih terdengar dari bibir-bibir yang membisikkan kebaikan yang diperuntukkan buat datuk dan neneknya anak-anak yang telah mendahului kami. Kami berharap doa-doa itu bisa menjadi penerang bagi ketiga perempuan yang kami sayangi. Usai bermunajat kami pun melanjutkan perjalanan ke Makam Taman Pahlawan Kalibata. Tapi sebelumnya kami mampir sejenak ke tempat makan. Melepas rasa lapar yang mulai terasa. 

Taman Makam Pahlawan Kalibata. Memasuki komplek makam satu ini ada prosedur yang harus diikuti. Untuk pihak keluarga hanya perlu mendaftarkan diri pada buku tamu yang tersedia di pos penjaga sebelum memasuki area makam. Sedangkan bagi pengunjung lain harus meminta izin dan mematuhi peraturan yang ada. Setelah itu kita akan memasuki area makam yang disambut oleh dinding nama yang berisi nama-nama pahlawan yang wafat pada tahun tertentu. Di sini datuknya anak-anak yang disemayamkan. Sebagai pahlawan dengan penganugerahan Bintang Gerilya oleh Presiden. Ribuan pahlawan telah disemayamkan di TMP Kalibata ini. 

Dari pos penjaga hingga ke lokasi makam cukup jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki. Disediakan angkutan beroda empat untuk membawa para pengunjung mencapai lokasi makam keluarga mereka. Sayang, saat kami berkunjung fasilitas tersebut sedang tidak beroperasi. Untuk mencapai lokasi tidak ada pilihan selain berjalan kaki. Anak-anak sangat menikmati komplek makam pahlawan ini. Mereka berlar-lari sepanjang jalan yang dihiasi oleh pohon-pohon rindang. Sejauh mata memandang terlihat hamparan makam-makam yang berbaris teratur dan rapi. 

Di TMP Kalibata ini, kami pun melakukan hal yang sama seperti di TPU Tanah Kusir. Membersihkan rumput-rumput liar di antara batu-batu kecil yang terserak di atas makam. Melafalkan doa-doa kebaikan dan mengakhirinya dengan menaburkan kembang dua warna yang kami bawa. Tidak ada maksud tertentu dengan dua warna yang kami pilih. Bukan untuk sesembahan atau ritual-ritual yang bersifat klenik. Menabur bunga hanya sebagai pemanis agar makam tampak cantik. Tidak lebih. Dan tabur bunga inilah yang sangat dinantikan oleh anak-anakku.


Ziarah kubur, dari sinilah kami diingatkan tentang kehidupan yang fana. Waktu yang terus berdetak semakin mempersingkat perjalanan di jagat ini. Buruk laku yang telah diperbuat berharap bisa menjadi pembelajaran yang cukup berarti. Karena pada akhirnya tubuh ini akan terbujur kaku. Jantung ini akan berhenti. Ruh yang bersemayam akan berhembus pergi. Dan ketika saat itu tiba, sudah siapkah diri ini? 

Bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Bahagia bila bisa berjumpa kembali dengan bulan yang suci. Dan bila kamu secara tidak sengaja kesasar di blog ini. Lalu membaca tulisan-tulisan di sini. Kemudian ada kata yang menyakiti hati. Maka dengan sedikit memaksa maafkanlah diri ini. Marhaban ya Ramadhan.  [*]   


Comments

  1. Wah tinggal sebulan lagi yaa bulan ramadhan tiba?
    Hmm.... Udah nggak kerasa lagi euy....

    ReplyDelete
  2. Dulu pas pelajaran di ngajian ku, disebutkan bahwa bunga yang ada di atas makam bisa mengurangi dosa dan siksa kubur, Mbak.. Hadistnya jugak ada, tapi aku lupa.. Heheh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. oya? wah, ini aku baru tau dari kamu :)

      Delete
  3. setiap lebarang aku juga suka berjiarah ke makam ade ku .. sambil bersih-bersihin makamnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya itu salah satu gunanya, buat ngbersihin makam.. pa lg di kota2 besar tanah udah dilahap buat pembangunan.. jadi dech lahan makam smakin sempit.. plus banjir yang mulai menghantui.. makanya jauh2 hari sebagian dari mereka yg hidup sudah sibuk memesan tanah ukuran 2X1 ini...

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Obat TB Gratis, Berobat Yuk

Ketakutan itu masih sering menghantui hari-hariku. Selama Tuberkulosis masih menjadi momok bagi dunia kesehatan, sepertinya susah untuk pura-pura mengatakan aku  rapopo  . Kemudahan penularan dari penyakit akibat kuman Mycobacteriun Tuberculosis salah satu sebabnya.  Beberapa hari yang lalu, bayang-bayang ketakutan itu kembali menghantuiku. Sebut saja mama Riska, beliau adalah pekerja paruh waktu di rumahku. Karena kondisi kesehatan yang menurun, beliau memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama dua hari. Terdengar suaranya yang lemah dan batuk-batuk kecil yang menyertainya, menggiring pikiranku pada satu kesimpulan tentang penyakit yang diderita mama Riska. Tuberkulosis, begitulah pikirku saat itu. Sungguh aku terlalu cepat memutuskan mama Riska terjangkiti kuman Mycobakterium Tuberkulosis . Hal ini semakin memperjelas betapa paranoidnya aku. Pengetahuan yang cukup tidak membuat rasa khawatirku berkurang, justru aku semakin waspada terhadap penyakit satu ini. ...

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

House For Sale

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah kisah singkat karya A.S. Laksana. Karyanya dimuat di salah satu surat kabar harian nasional yang terbit dari Surabaya. Dengan tajuk Dijual : Rumah Dua Lantai Beserta Kenangan di Dalamnya, bercerita tentang sepasang suami isteri yang sedang berada di ambang batas perceraian. Masalah-masalah yang sekiranya dianggap sepele oleh salah satu dari pasangan di dalam cerita ternyata bagi yang lain itu menjadi timbunan-timbunan konflik berkepanjangan. Dan pada akhirnya memaksa keduanya untuk segera mengambil keputusan yang tidak mudah. Mungkin seperti itulah yang bisa saya tangkap dari cerita pendek karya saudara A.S Laksana. Tapi tulisan ini tidak ingin membahas tentang cerpen A.S. Lakasana. Membaca cerpen ini seketika mengusik memori saya yang sudah lama terpendam. Ini menyangkut judul lagu yang diangkat oleh cerpenis. Membawa benak saya pada sebuah rumah yang entah seperti apa kini wujudnya. Rumah dalam kenangan saya tidak sama dengan ruma...