Skip to main content

Catatan Hati Seorang Ibu


Lagaknya ibunya selalu di depan leptop. Bila ditanya oleh si buah hati "ibu sedang apa?" Si ibu selalu menjawab "ibu sedang membuat sebuah tulisan nak". Hampir selalu seperti itu setiap hari. Tanpa disadari oleh si ibu, ternyata si anak mengikuti apa yang selalu dikatakan oleh si ibu. Membuat sebuah tulisan. 

Tulisan-tulisan itu berdasarkan apa yang dirasakan oleh si buah hati. Menggambarkan suasana hatinya, entah itu senang, sedih atau pun marah. Semua ditumpahkannya melalui tulisan-tulisan yang berserakan di kertas-kertas kecil di antara buku-buku sekolahnya. 

Hal ini diketahui oleh si ibu ketika dirinya sedang membenahi buku-buku sekolah si buah hati. Tanpa sengaja si ibu menemukan coretan tangan si kecil yang berkisah tentang perasaannya. Si ibu pun tertegun lalu terduduk sembari menatap lekat pada kertas sobekan yang berada di genggamannya. Indera penglihatannya menulusuri kata demi kata yang tertuang, membacanya perlahan. Untuk beberapa saat si ibu akan melakukan hal yang serupa, mengulang membaca tulisan si kecil demi memastikan dirinya tidak melewati satupun huruf yang tertera pada secarik kertas lusuh yang ditemukannya. 

Setiap tulisan yang berhasil ditemukan si ibu, meninggalkan jejak-jejak yang berbeda di kalbunya. Ketika tulisan itu berkisah tentang kesenangan, si ibu akan tersenyum dengan sendirinya. Ketika tulisan itu berkisah tentang kesedihan, si ibu pun ikut menangis akan penderitaannya. Ketika tulisan itu berkisah tentang kemarahan, si ibu akan mengutuki dirinya kenapa hal itu bisa terjadi. Apa yang telah dilakukannya selama ini. Membiarkan buah hatinya memendam marah. Ibu macam apa dia, Sesalnya.

Tetapi dari semua hal yang menghinggapi kalbunya, mengoyak batinnya, melumat keibuannya. Tulisan-tulisan sederhana itu menyisakan sedikit rasa sukur akan lakunya selama ini. Kebiasaan menulis yang diperlihatkan oleh si ibu mendorong si kecil lebih terbuka akan dirinya melalui ungkapan-ungkapan sederhana yang dibuatnya. Dan itu memberi kemudahan bagi si ibu untuk mengetahui bagian mana saja yang perlu dibenahi. Iya, melalui sobekan-sobekan kecil yang ditemukannya itu adalah bekal bagi si ibu untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Begitulah tekadnya.

Comments

Popular posts from this blog

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

Kenali Gejalanya, Tuberkulosis Bisa Disembuhkan

Sebagai orang yang awam dalam bidang kesehatan, Tuberkulosis membuat saya selalu khawatir bila berdekatan dengan seseorang yang sedang batuk-batuk. Dulu, sewaktu saya kecil ada salah satu pegawai orang tua saya, kak Ujang, dikabarkan terkena Tuberkulosis. Tapi saya tidak terlalu mengerti saat itu, karena masih anak-anak. Entah sejak kapan tepatnya, kak Ujang sudah tidak berkerja lagi dengan orang tua saya. Sekian lama saya tidak mendengar kabar tentang beliau. Hingga kabar duka itu sampai ke telinga saya ketika saya sudah menjadi seorang ibu. Meninggal karena Tuberkulosis, terbayang kembali badannya yang kurus, gaya hidupnya yang tidak bisa jauh dari rokok. Kak Ujang, beliau yang sering bermain dengan saya kecil, bercanda, tertawa. Ah, meyesal saya tidak sempat berjumpa dengannya sebelum kepergiaan beliau ke alam sana. Saya tidak tahu apakah orang-orang yang disekitar beliau sudah mengambil langkah-langkah kesehatan yang tepat. Mengingat Tuberkulosis ini sudah cukup lama menggrogoti ...

Aku Membutuhkanmu di Sini. Hanya Itu!!

Aku berdiri di tanah lapang. Tubuh-tubuh saling berdesakan. Anak-anak bermain berlarian. Muda mudi asik bercengkrama. Ada yang jalan berpelukan. Ada pula yang lebih memilih duduk berdampingan sembari menikmati petang. Aku diam tak bergerak. Hanya mataku yang liar mencarimu. Di kejauhan tampak sebuah pertunjukan yang menarik banyak orang untuk berkumpul. Kuputuskan mendekat. Mungkin di sana aku akan menemukanmu. Cetar. Cetar. Samar terdengar bunyi cambuk yang dipukul ke udara. Suaranya membahana menarik banyak perhatian. Cetar.  Riuh suara memadati tanah lapang. Tubuh-tubuh tinggi menutupi ku yang berada di barisan belakang. Rapat barisan membuatku kepayahan melihat pertunjukan di depan sana. Tapi aku harus menemukanmu. Saat ini aku begitu membutuhkanmu. Ada yang terasa kosong setelah sekian lama kita berpisah. Sungguh aku memerlukan dirimu. Menemaniku melalui dunia yang sudah tak ramah. Di depan sana aksi terus berlanjut. Aku masih berdiri diam. Mencari celah di anta...