Skip to main content

Duka di Hari Minggu 2

Kehilangan yang tak diduga-duga. Kabar pilu kedua yang kudengar di hari yang sama. Kisah sedih di hari Minggu (08/03) itu pun berlanjut. 

Setelah kisah kami disini bernuansa kesedihan. Di rumah aku mencoba mengusir sendu yang masih terasa. Namun tubuhku lelah. Kubiarkan sepi merayapi tembok-tembok bisu. Aku terbaring diantara anak-anakku. Di sisi kiriku, putri bungsuku tertidur lelap. Di sisi kananku, putri sulungku terbaring letih. Hening mencekam. Seberkas cahaya kemerahan menembus lubang-lubang fentilasi kamar. Senja telah tiba. Putih pekat tak lagi merajai cakrawala, Kucoba memejamkan mata. Aku butuh sedikit waktu. Melepas penat. Dalam tidur yang kucoba hadirkan, sayup terdengar dering handphone-ku berbunyi. Seorang kawan menelepon. Setengah mengantuk kuterima panggilan itu.

"Apa? Gak salah dengar nich?" 

Bagai mimpi mendengar kabar yang disampaikan oleh kawanku itu. Tak yakin dengan berita yang kudengar. Segera kulayangkan beragam pertanyaan kepadanya yang tengah meneleponku.
"Apa? Sahrulnya mbak? Bukan mamak atau bapaknya?"
"Iya Sahrulnya."
"Kapan?"
"Sore ini, baru aja."
"Di mana?"
"Di Bekasi."
"Sama siapa? Ok. Ok. Aku ke sana setelah maghrib. Jemput aku ya. Sip. Thanks. "

Kukira langit yang merona kemerah-merahan sebagai tanda bahwa duka perlahan sirna. Ternyata tidak. Ketika senja tiba, lara kembali singgah di rumah mungil kami. Kesedihan yang sama ditorehkan kepada orang-orang yang ku kenal. Anak salah satu kawanku telah tiada. Kawan satu sekolah putri sulungku menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit swasta daerah Bekasi. Pilu yang kembali menyeruak. Minggu kelabu. Hanya kelam dan bisu yang kurasakan. Kegetiran segera terbayang di rumah duka. Oh Tuhan, begitu banyak pesan sendu yang Kau kirimkan hari ini. 

Malam. Lampu-lampu kendaraan menyorotiku bergantian. Ramai kendaraan. Sesak jalanan. Namun terasa hening. Kembali kami akan berjumpa rona-rona kesenduan. Sepanjang gang yang kami lalui, tidak kami temui deretan mobil yang berjejer rapi seperti ketika kami ke rumah tante Umi siang tadi. Namun aura yang dirasakan tak kurang tak lebih sama. Kesedihan. Kepiluan. Kehilangan. Sepertinya kata-kata tidak lagi memiliki makna. Tak sanggup aku mengungkapkan  apa yang tampak di depan mata. Kami pun kembali hanyut dalam kesedihan. Malam semakin sunyi dan kelam.

Sudah banyak orang yang berkumpul di muka rumah. Dibawah atap terpal plastik berwarna biru mereka duduk. Cahaya berpijar dari lampu-lampu neon. Kedatangan kami membuat ruangan menjadi semakin penuh oleh manusia-manusia yang melayat. Seseorang menggiring kami ke subuah ruangan. Ruangan itu kecil saja. Bayangkan sebuah kontrakan petakan. Ukurannya hanya cukup untuk sebuah kasur dan almari pakaian. Disitulah almarhum diletakkan. Di atas ranjang. 

Kami berdiri mengelilingi ranjang yang digunakan untuk membaringkan jenazah. Tubuh-tubuh kami menempel satu sama lain. Tidak kami biarkan ada ruang kosong. Bila terlihat sedikit celah akan segera terisi oleh mereka yang baru tiba. Sesak. Pengap. Peluh bercucuran. Aku hanya diam dan bergeming sembari menatap tubuh yang sudah tak bernyawa. Dari kedua lubang hidung almarhum sekali-kali mengalir darah segar. Kawan wanita kakak perempuannya selalu siap siaga dengan tisu ditangan. Bila warna merah bergerak turun segera diusap olehnya. Sedangkan kakak perempuan almarhum hanya duduk termenung tanpa memberi sedikit pun respon terhadap tanya yang kerap dilayangkan kepadanya.

Ibu-ibu yang melayat sibuk menanyakan sebab musabab ananda Sahrul menghembuskan nafasnya. Beragam pertanyaan pun dilontarkan. Semua dijawab penuh ketegaran. 

"Sahrul. Anak lelaki dengan tubuh yang berisi. Selalu riang. Meskipun dimarahi senyum selalu terkembang." Kenang ibunya. 

"Sahrul mah anaknya selow, dimarahin ya tetep aja senyam senyum tidak pernah ngdumel," sebagian besar pelayat berkata sepeti itu. 

Kisah sedih ini dimulai ketika almarhum muntah-muntah sebanyak tujuh kali. Karena tidak ada keluhan dari almarhum. Orang tuanya menganggap Sahrul hanya muntah-muntah biasa. Tetapi tubuh Sahrul memberi respon yang berbeda. Suhu tubuhnya dirasakan terus menanjak naik. Keadaannya semakin mengkhawatirkan ketika Sahrul mengalami kejang-kejang. Kondisi yang demikian menjadi tanda bagi kedua orangtuanya untuk segera mengambil tindakan medis. Maka dibawalah Sahrul ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit sempat menolak karena ruangan icu penuh. Hingga rumah sakit swasta yang berada di Bekasi menerima Sahrul sebagai pasiennya. 

"Anak itu kan cuma titipan. Ketika yang memiliki memintanya kembali. Kita mau ga mau harus mau menerima keinginan Nya. Siap gak siap. Harus bisa menerima ketentuan Nya," ucap ibunda Sahrul tegar. 

Malam semakin pekat. Pelayat semakin rapat. Dua hari sebelum Sahrul divonis tidak bisa terselamatkan oleh pihak rumah sakit yang memberi perawatan. Sahrul masih sempat bersekolah. Duka ini ada tanpa ada keluhan. Tidak ada rasa sakit yang diutarakan. Semua berjalan seperti biasa. Tidak ada firasat, tidak ada tanda bila kemudian Sahrul akan pergi selama-lamanya. Kami mendengar kabar ini bagai mimpi di siang bolong. Percaya tidak percaya, namun pada kenyataannya Sahrul memang telah tiada. 

Minggu ini sendu terasa sangat. Kesedihan. Kepiluan. Kehilangan adalah bagian dari hidup. 

Sahrul anak yang baik. Anak yang selalu ceria. Di usia yang sangat muda. Tuhan telah memanggilnya kembali. Selamat jalan Sahrul. Semoga kau mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya. Amin.

"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un. Allahumma 'indaka ahtasibu musibati fa ajirni fiha wa abdilni minha khaira"



Comments

  1. Innalillahi... Maret tahun ini bukan bulanmu yaa mbak. Banyak sekali berita duka. Semoga tabah dan diberi kekuatan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, bulan ini bulan yang cukup berat...

      Delete
  2. inalilahi.. ya Allah , ujian hidup memang bgtu ya mba. datang tidak pernah diduga, bahkan bersamaan. smga diberi kekuataan untuk menjalani semua ujian ini. amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, amin.. makasih untuk doanya.

      Delete
  3. Inalilahi,semoga ananda sahrul diterima amal ibadahnya.Amin

    ReplyDelete
  4. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.. Semoga Dek Sahrul menjadi penyelamat bagi orangtuanya di akhirat yah, Mbak.. :'

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Monetisasi Blog Meningkatkan atau Menurunkan Gairah Menulis

Google benarkah ini?? source pic : google Malam ini tidurku tak nyaman. Gerakan-gerakan tak nyenyak si kecillah yang membuatku membuka mata berulang kali. Tubuhku penat. Lelap pun tak kudapat. Kantukku belum usai namun azan subuh telah berkumandang.  Sedikit malas kuberanjak dari tidurku. Tampak tuan-tuan putri masih terbuai mimpi. Kualihkan pandanganku ke gadget  usangku. Seperti biasa jari-jariku menari diantara aplikasi yang terinstal. Kotak suler menjadi akhir lompatanku. Berharap hari ini ada kabar baik yang akan kuterima. Tak perlu menunggu lama, kotak surat elektronikku pun terbuka. Tatapanku pun segera terpaku pada bagian teratas list inbok  ku. Terbersit harap yang selama ini kudambakan namun segera kuenyahkan. Tak mungkin, pikirku. Namun. Google pun Memberi Jawab source pic : google Selamat!! Sampai pada tahap ini saja mukaku sudah merona. Teringat penolakan-penolakan yang kuterima. Dan pengajuan permohonan Google AdSense (GA) ku yang tanpa ...

Kenali Gejalanya, Tuberkulosis Bisa Disembuhkan

Sebagai orang yang awam dalam bidang kesehatan, Tuberkulosis membuat saya selalu khawatir bila berdekatan dengan seseorang yang sedang batuk-batuk. Dulu, sewaktu saya kecil ada salah satu pegawai orang tua saya, kak Ujang, dikabarkan terkena Tuberkulosis. Tapi saya tidak terlalu mengerti saat itu, karena masih anak-anak. Entah sejak kapan tepatnya, kak Ujang sudah tidak berkerja lagi dengan orang tua saya. Sekian lama saya tidak mendengar kabar tentang beliau. Hingga kabar duka itu sampai ke telinga saya ketika saya sudah menjadi seorang ibu. Meninggal karena Tuberkulosis, terbayang kembali badannya yang kurus, gaya hidupnya yang tidak bisa jauh dari rokok. Kak Ujang, beliau yang sering bermain dengan saya kecil, bercanda, tertawa. Ah, meyesal saya tidak sempat berjumpa dengannya sebelum kepergiaan beliau ke alam sana. Saya tidak tahu apakah orang-orang yang disekitar beliau sudah mengambil langkah-langkah kesehatan yang tepat. Mengingat Tuberkulosis ini sudah cukup lama menggrogoti ...

Aku Membutuhkanmu di Sini. Hanya Itu!!

Aku berdiri di tanah lapang. Tubuh-tubuh saling berdesakan. Anak-anak bermain berlarian. Muda mudi asik bercengkrama. Ada yang jalan berpelukan. Ada pula yang lebih memilih duduk berdampingan sembari menikmati petang. Aku diam tak bergerak. Hanya mataku yang liar mencarimu. Di kejauhan tampak sebuah pertunjukan yang menarik banyak orang untuk berkumpul. Kuputuskan mendekat. Mungkin di sana aku akan menemukanmu. Cetar. Cetar. Samar terdengar bunyi cambuk yang dipukul ke udara. Suaranya membahana menarik banyak perhatian. Cetar.  Riuh suara memadati tanah lapang. Tubuh-tubuh tinggi menutupi ku yang berada di barisan belakang. Rapat barisan membuatku kepayahan melihat pertunjukan di depan sana. Tapi aku harus menemukanmu. Saat ini aku begitu membutuhkanmu. Ada yang terasa kosong setelah sekian lama kita berpisah. Sungguh aku memerlukan dirimu. Menemaniku melalui dunia yang sudah tak ramah. Di depan sana aksi terus berlanjut. Aku masih berdiri diam. Mencari celah di anta...